Environmental Surface Swab

Setelah ditemukannya kasus COVID-19 pertama di Indonesia lebih dari setahun yang lalu, masyarakat hingga kini masih menerapkan adaptasi kebiasaan baru atau lebih dikenal dengan new normal. Dengan adanya penerapan new normal, masyarakat diminta untuk tetap mematuhi protokol kesehatan selama beraktivitas. Hal ini menyebabkan sektor publik dan pembuat kebijakan terkait kesehatan memiliki kewajiban untuk melakukan monitoring penyebaran virus penyebab COVID-19 atau SARS-CoV-2 agar dapat segera mengimplementasikan tindakan pencegahan ataupun tindakan mitigasi jika terjadi ledakan kasus di lingkungan publik. 

Salah satu tindakan monitoring yang dapat dilakukan yaitu deteksi virus SARS-CoV-2 dari sampel permukaan atau Environmental Surface Swab. Beberapa studi terkait ketahanan dan stabilitas SARS-CoV-2 sudah banyak dilakukan, beberapa diantaranya meneliti ketahanan SARS-CoV-2 pada permukaan yang banyak ditemukan di sekitar seperti stainless, kaca, vinyl, atau meneliti sampel swab dari permukaan yang bersentuhan langsung dengan kasus positif COVID-19.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 masih dapat bertahan hidup dan tetap bersifat infeksius beberapa jam setelah dipaparkan ke permukaan yang diujikan. Riddell et al. melakukan penelitian menggunakan beberapa benda yang mewakili permukaan yang sering disentuh seperti uang kertas, stainless, kaca, vinyl, dan kain yang terbuat dari kapas. ‘www.ptgenetika.com’. Material seperti stainless banyak ditemukan pada perabotan seperti area dapur dan fasilitas publik lainnya, sementara kaca juga banyak ditemukan di rumah sakit, transportasi publik, hingga permukaan yang sangat sering disentuh seperti telepon genggam. Sementara vinyl merupakan salah satu material yang digunakan dalam pembuatan meja hingga handle pada transportasi publik. Seluruh material yang akan diujikan tersebut didisinfeksi terlebih dahulu sebelum diinokulasi dengan isolat SARS-CoV-2 yang sudah diatur sehingga viskositas dan konsentrasinya menyerupai ekskresi dari pasien yang positif COVID-19. Sampel kemudian diinkubasi dengan waktu dan suhu tertentu.  Hasil penelitian tersebut menunjukkan hingga hari ke-28 paska inokulasi, virus SARS-CoV-2 yang bersifat infeksius masih ditemukan pada sampel yang disimpan di suhu 200C. Virus dapat dideteksi pada material yang bersifat non-porous seperti kaca, uang kertas, stainless, dan vinyl. Recovery virus SARS-CoV-2 menurun seiring dengan meningkatnya suhu, dimana pada hari ke-7 recovery virus masih dapat diukur pada permukaan seperti stainless dan kaca yang diinkubasi di suhu 300C. Sementara untuk suhu 400C recovery virus tidak dapat dideteksi lagi setelah 48 jam.

Selain inokulasi isolat virus ke permukaan, deteksi langsung dari hasil swab permukaan juga diteliti oleh Luo et al., dimana penelitian dilakukan dengan cara swab permukaan benda yang terdapat di rumah, hotel, tempat umum, hingga restoran yang dikunjungi oleh pasien terkonfirmasi positif COVID-19. Hasil penelitian menunjukkan 20 sampel ditemukan positif berdasarkan RT-PCR, ke-20 sampel ini berasal dari 9 kasus positif COVID-19. Sampel positif berasal dari toilet, dapur, tempat tidur, ruang keluarga, hingga gagang pintu. Seluruh sampel diambil 3 hari setelah pasien didiagnosis positif COVID-19, mengindikasikan bahwa virus masih dapat terdeteksi pada permukaan beberapa hari setelah terpapar virus. ‘www.ptgenetika.com’

Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, deteksi SARS-CoV-2 pada permukaan yang sering disentuh di tempat umum dapat dijadikan indikator ada tidaknya individu yang terinfeksi virus baik yang bergejala maupun tidak menunjukkan gejala, atau juga dapat dijadikan sebagai salah satu tolak ukur apakah kebersihan area kerja atau area umum sudah memenuhi standar. Beberapa area yang direkomendasikan oleh WHO untuk dilakukan swab permukaan adalah ruangan dimana pasien terkonfirmasi positif berada misalnya gagang pintu, toilet, sakelar lampu, hingga filter penyaring udara.

Layanan Kami

Environmental Surface Check

Genetika Science Indonesia menyediakan layanan jasa analisa swab permukaan atau environmental surface swab untuk deteksi SARS-CoV-2 pada permukaan yang tergolong high-touched hard surface. Sampel swab akan diekstraksi dan dikerjakan menggunakan metode qRT-PCR untuk dilihat apakah terdeteksi SARS-CoV-2 pada sampel. Servis ini sesuai untuk sektor publik maupun peneliti dimana hasilnya dapat digunakan sebagai data pendukung apakah program kebersihan atau disinfeksi area umum yang dilakukan sudah sesuai standar atau jika ingin mengetahui apakah terdapat virus penyebab COVID-19 pada sampel yang ingin diteliti.

Sumber:

Luo L, Liu D, Zhang H, Li Z, Zhen R, Zhang X, et al. (2020) Air and surface contamination in non-health care settings among 641 environmental specimens of 39 COVID-19 cases. PLoS Negl Trop Dis 14(10): e0008570. https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0008570

Riddell, S., Goldie, S., Hill, A. et al. The effect of temperature on persistence of SARS-CoV-2 on common surfaces. Virol J 17, 145 (2020). https://doi.org/10.1186/s12985-020-01418-7

WHO. (2020, February 18). Surface sampling of coronavirus disease (‎COVID-19)‎: a practical “how to” protocol for health care and public health professionals. Retrieved from World Health Organization: https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/331058/WHO-2019-nCoV-Environment_protocol-2020.1-eng.pdf

(Monika Nanda, PT Genetika Science Indonesia)